Minggu, 03 Maret 2013

folklore


UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL
MATA KULIAH FOLKLORE




Oleh:
Lucia Ratri Ardhanaswari


Jurusan Antropologi Budaya
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Semester Ganjil
2012-2013

MENGANALISA HUMOR (LELUCON)

Humor menurut cikal bakalnya berasal dari istilah Inggris, yang pada awalnya punya beragam arti. Seperti dikutip Lukman Ali, dkk (1997:361) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan humor sebagai: “(1) Sesuatu yang lucu, (2) kejadian yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan, dan (3) cairan atau zat setengah cair dalam tubuh”. Sedangkan menurut James Danandjaja dalam bukunya Humor Mahasiswa Jakarta - Buku I: Lelucon Erotik, semua berasal dari istilah yang berarti cairan (Arwana dan Artanto, 2007:9). Arti ini berasal dari doktrin Ilmu Faal kuno mengenai empat cairan, seperti darah, lendir, cairan empedu kuning, dan cairan empedu hitam. Keempat cairan tersebut untuk beberapa abad dianggap menentukan temperamen seseorang.
Di dalam situasi masyarakat yang telah memburuk, humor menampakkan peranannya yang sangat besar. Humor dapat membebaskan diri manusia dari beban kecemasan, kebingungan, kekejaman, dan kesengsaraan. Dengan demikian, manusia dapat mengambil tindakan penting untuk memperoleh kejernihan pandangan sehingga dapat membedakan apa yang benar-benar baik dan benar-benar buruk. Dengan humor manusia dapat menghadapi ketimpangan masyarakat dengan canda dan tawa. Dengan demikian, menurut James Dananjaja, humor sebenarnya dapat dijadikan alat psikoterapi, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam proses perubahan kebudayaan secara cepat dan hidup yang penuh dengan tekanan, seperti Indonesia.
Berikut adalah contoh humor (lelucon) 1 beserta penjelasannya:

  1. Seorang dokter spesialis anak datang agak terlambat ke klinik kerjanya. Agar pasiennya yang lama menunggu tidak marah padanya, dokter itu berusaha menyapa dan menjalin keakraban dengan para calon pasiennya.
"Wah, cantiknya, namanya siapa ya?" tanyanya seraya menggoda seorang anak yang dipangku ibunya.
"Dona,” sahut ibu si pasien.
"Pasti... dulu waktu hamilnya, ibu doyan makan donat ya?" canda dokter itu berusaha untuk menyenangkan hati pasiennya.
Kemudian, ia berlalu dan mendekati pasien lainnya. "Aduh, manisnya anak ibu, siapa namanya?" tanyanya pada ibu si pasien lainnya.
"Dui," jawab sang ibu.
"Pasti waktu hamil, ibu ngidam duit yang banyak yah?" canda dokter lagi.
Dokter itu berlalu dan mendekati pasien lainnya.
Namun, belum sempat dokter itu menyapa pasien berikutnya, Ibu itu langsung menarik tangan anaknya sambil berkata, "Ayo Titi... kita pulang aja!" (Kumpulan Cerita Lucu-Guyonan Akut Gak Bikin Semaput, Astina Ranggataka, 2009)

Bagian dari humor (lelucon) 1 di atas yang diharapkan menimbulkan efek kelucuan adalah pada bagian akhir. Humor dari dalam negeri ini sebenarnya juga sama dengan humor yang ada di luar negeri, khususnya Negara yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya (Inggris, Amerika, Australia, dll…). Humor dari luar negeri ini dinamakan spoof. Bagian yang membuat kelucuan dari spoof ini adalah pada bagian akhirnya. Cerita spoof ini adalah cerita yang dibuat berdasarkan sebuah kejadian lucu atau peristiwa yang aneh yang telah terjadi di masa lampau. Adapun unsur-unsur dari cerita spoof terdiri dari empat bagian penting, diantaranya adalah:
1. Orientation  : Berfungsi sebagai awal cerita yang mengantar ke dalam inti cerita
2. Event           : Bagian yang menceritakan kejadian awal
3. Event 2        : Bagian yang menceritakan kejadian setelah kejadian awal (bila ada)
4. Twist           : Akhir yang tidak terduga atau lucu.
Sama dengan halnya pada humor (lelucon) dalam negeri di atas. Bagian-bagian dari awal sampai akhirpun sepertinya juga sama. Bagian dari humor (lelucon) 1 di atas yang diharapkan menimbulkan efek kelucuan adalah pada bagian akhirnya. Mungkin maksud pengarang membuat lelucon tersebut mengandung makna agak erotik supaya bisa dikatakan lucu / menghibur. (Pasien pertama bernama Dona karena mungkin si ibu ngidam donat. Pasien kedua bernama Dui karena mungkin si ibu ngidam duit. Sedangkan pasien terakhir tiba-tiba diajak ibunya pergi mungkin karena bernama Titi dan takutnya kalau si dokter nyeplos mungkin si ibu ngidam (maaf) titit.). Nah, mungkin kalau si pembaca masih belum mengerti (lugu) mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti tidak akan tertawa karena bingung. Sedangkan kalau si pembaca sudah mengerti mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti dia akan tertawa karena kelucuannya bersifat agak erotik.
Efek kelucuan humor (lelucon) di ataspun sebenarnya juga terbangun / terbentuk dari sifat erotik. (Pasien pertama bernama Dona karena mungkin si ibu ngidam donat. Pasien kedua bernama Dui karena mungkin si ibu ngidam duit. Sedangkan pasien terakhir tiba-tiba diajak ibunya pergi mungkin karena bernama Titi dan takutnya kalau si dokter nyeplos mungkin si ibu ngidam (maaf) titit.). Dalam hal ini, (maaf) titit di bahasa keseharian di Indonesia, khususnya orang Jawa dikonotasikan sebagai alat kelamin pria. Jadi bisa disimpulkan bahwa efek kelucuan humor (lelucon) di atas juga terbangun / terbentuk dari sifat erotik.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan yang menimbulkan efek kelucuan dari humor (lelucon) 1 di atas sebenarnya adalah tergantung kepada si pembaca. Keberhasilannya adalah kalau si pembaca sudah mengerti mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti dia akan tertawa. Sedangkan kegagalannya adalah kalau si pembaca masih belum mengerti (lugu) mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti tidak akan tertawa karena bingung.

Berikut adalah contoh humor (lelucon) 2 beserta penjelasannya:

  1. Lelaki lugu bernama Ujang terlihat sedang memasuki sebuah club malam. Dia terheran-     heran dengan suasana hingar-bingar. Ia pun duduk di sebelah perempuan yg cantik duduk sendirian. Ujang pun mendekatinya dan menyapanya, “Halo, aku traktir ya.... mau kan?” “Boleh aja. Tapi... kamu jangan berharap lebih ya!” kata perempuan tersebut.
“Lho emangnya kenapa?” tanya Ujang.
“Karena aku lesbian! Kamu tahu lesbian ‘kan?” seru perempuan itu.
Si Ujang terlihat menggelengkan kepalanya sebagi tanda tidak mengerti.
Perempuan itu pun berusaha menjelaskan, "Begini... kamu lihat perempuan seksi yang menari itu? Ok... hasratku sangat meledak-ledak untuk mencumbuinya, menciuminya, dan ‘tidur’ dengannya!"
Si Ujang terlihat manggut-manggut seolah-olah mengeti suatu hal.
"Ok... kamu sudah mengeti ‘kan?" tanya perempuan cantik yang duduk di sebelah si Ujang.
Dengan yakin dan mantap, si Ujang berkata, "Ya... Tuhan, Sepertinya aku juga lesbian..." (Kumpulan Cerita Lucu-Ngocool Pool, Astina Ranggataka, 2009)
Sebenarnya penjelasan mengenai humor kedua ini sama dengan halnya pada humor (lelucon) pertama sebelumnya. Bagian-bagian dari awal sampai akhirpun sepertinya juga sama. Bagian dari humor (lelucon) 1 di atas yang diharapkan menimbulkan efek kelucuan adalah pada bagian akhirnya. Mungkin maksud pengarang membuat lelucon tersebut mengandung makna agak erotik supaya bisa dikatakan lucu / menghibur. (Lelaki lugu bernama Ujang terlihat sedang memasuki sebuah club malam. Dia terheran-heran dengan suasana hingar-bingar. Ia pun duduk di sebelah perempuan yang cantik duduk sendirian. Setelah berbincang-bincang, wanita itu menjelaskan bahwa dia adalah seorang lesbian. Si Ujang terlihat menggelengkan kepalanya sebagi tanda tidak mengerti apa itu lesbian. Lalu wanita itu menjelaskan, "Begini... kamu lihat perempuan seksi yang menari itu? Ok... hasratku sangat meledak-ledak untuk mencumbuinya, menciuminya, dan ‘tidur’ dengannya!" Si Ujang terlihat manggut-manggut seolah-olah mengeti suatu hal. "Ok... kamu sudah mengeti ‘kan?" tanya perempuan cantik yang duduk di sebelah si Ujang. Dengan yakin dan mantap, si Ujang berkata, "Ya... Tuhan, Sepertinya aku juga lesbian..."). Nah, mungkin kalau si pembaca masih belum mengerti (lugu) mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti tidak akan tertawa karena bingung karena tidak mengerti arti kata “lesbian”. Sedangkan kalau si pembaca sudah mengerti mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti dia akan tertawa karena bisa menangkap arti ceritanya kelucuannya yang bersifat agak erotik.
Efek kelucuan humor (lelucon) di atas juga terbangun / terbentuk dari sifat erotik. Dalam humor (lelucon) ini, kata “lesbian” dikonotasikan sebagai penyuka sesame jenis.). Jadi bisa disimpulkan bahwa efek kelucuan humor (lelucon) di atas juga terbangun / terbentuk dari sifat erotik.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan yang menimbulkan efek kelucuan dari humor (lelucon) 1 di atas sebenarnya adalah tergantung kepada si pembaca. Keberhasilannya adalah kalau si pembaca sudah mengerti mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti dia akan tertawa. Sedangkan kegagalannya adalah kalau si pembaca masih belum mengerti (lugu) mengenai letak kelucuan humor (lelucon) ini, pasti tidak akan tertawa karena bingung.





Lucia Ratri Ardhanaswari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar